Bagaimana komedian Jepang membuat dan menguji materi lawakan?
Wawancara dengan para komedian dan keterangan resmi sekolah komedi memberi gambaran tentang penulisan bersama, bimbingan, serta pengujian materi di depan penonton.
Dari gagasan hingga tanggapan penonton
Dalam pengalaman yang diceritakan para komedian Jepang dalam wawancara, ide bisa berawal dari kepribadian pasangan lawak, sesuatu yang terasa janggal, atau pertukaran gagasan. Untuk mengujinya, ada yang membawakan materi untuk mendapat masukan, menerima kritik, memperbaikinya, lalu mencoba materi di depan penonton. Tanggapan penonton dan penilaian sesama komedian pun tidak selalu sama.
Dari mana ide lawakan muncul?
Dalam sebuah wawancara, seorang komedian menceritakan kesulitan menentukan arah materi bersama pasangan lawak yang dikenalnya lewat internet. Mereka belum saling mengenal dengan baik. Untuk memahami pasangannya, narasumber itu meminta sepuluh sifat yang ditulis berdasarkan analisis diri sendiri. Daftar tersebut akan menjadi dasar untuk membuat materi.
Sebagai contoh, narasumber itu menuliskan sifatnya sendiri: murung, kurang pandai bergaul, dan mudah gugup. Namun, jawaban pertama yang dibawa pasangannya justru “gigi sensitif”.
Dalam wawancara lain, seorang komedian menjelaskan asal materi tentang pemain bisbol perempuan. Idenya muncul setelah melihat berita tentang kemenangan di liga bisbol perempuan yang hanya mendapat ruang kecil di sudut koran. Rasa janggal terhadap penempatan berita itu menjadi pangkal materi yang kemudian dibawakan dalam pertunjukan yang digelar agensi.
Bagaimana gagasan dirangkai bersama?
Dalam wawancara lain, seorang komedian mengenang proses membuat materi saat menjadi bagian dari kelompok beranggotakan tiga orang. Mereka menentukan satu latar terlebih dahulu, misalnya sumo. Semua anggota menyumbangkan gagasan lucu, lalu narasumber tersebut merangkainya menjadi materi.
Hamabe no Wolf memberikan contoh lain dalam sebuah wawancara. Materi dikembangkan lewat grup LINE bersama para penulis. Kiriman materi dari salah satu penulis memacu Hamabe no Wolf untuk ikut bekerja lebih giat, sampai bisa menulis banyak materi dalam satu minggu, melebihi kebiasaannya.
Di mana materi dibawakan untuk mendapat masukan?
Menurut halaman tanya jawab resmi NSC, sekolah komedi milik agensi hiburan Yoshimoto Kogyo, sesi membawakan materi mencakup 40 persen dari keseluruhan pelajaran. Sekolah itu menyebutnya sebagai ciri utamanya. Halaman tersebut tidak merinci siapa yang menilai atau bagaimana penilaiannya dilakukan.
Panduan penerimaan tahun ajaran 2027 Ohta Pro Entertainment College, sekolah komedi milik agensi hiburan Ohta Production, memberikan gambaran yang lebih terperinci. Pada akhir setiap sesi kelas, peserta membawakan materi dan mendapat bimbingan langsung dari pengajar untuk menyempurnakannya.
Dalam kelas lanjutan pada program tersebut, peserta juga mendapat tugas setiap minggu. Mereka memiliki waktu sepekan untuk memikirkannya, lalu mempresentasikan hasilnya pada pertemuan berikutnya.
Apa yang terjadi setelah mendapat kritik?
Dalam sebuah wawancara, seorang komedian menceritakan bagaimana materi berkali-kali mendapat kritik saat dibawakan untuk dinilai. Setiap kali, materi dipikirkan kembali dan diperbaiki. Setelah itu, materi dicoba di depan penonton, dan yang mendapat tanggapan baik terus dibawakan.
Namun, tanggapan di ruang pertunjukan dan di belakang panggung bisa berbeda. Dalam wawancara lain, seorang komedian mengenang penampilan pertama sebuah materi baru dalam pertunjukan yang digelar agensi di Osaka. Meski merasa yakin dengan materi itu, narasumber tersebut mendapati materinya tidak mendapat sambutan, dan suara yang diberikan penonton pun sedikit.
Di belakang panggung, senior yang dihormati dan rekan-rekan komedian justru memuji materi tersebut. Ketika mengenang kejadian itu, narasumber tersebut menyebut dukungan mereka sebagai hal yang menentukan.
Bagaimana tujuan pertunjukan memengaruhi materi?
Materi untuk M-1 Grand Prix 2026, kompetisi komedi dialog, perlu disiapkan sesuai batas waktu dalam peraturan resminya. Batasnya dua menit untuk babak pertama serta tiga menit untuk babak kedua dan ketiga. Pada perempat final, semifinal, babak kesempatan kedua bagi peserta yang tersisih, dan final, batasnya empat menit.
Dalam wawancara yang sama, Hamabe no Wolf juga membedakan tujuan dua pertunjukan tunggalnya. Pertunjukan tunggal tahun sebelumnya disiapkan dengan harapan bisa menghasilkan materi yang dapat digunakan di kompetisi R-1 Grand Prix. Sebaliknya, untuk pertunjukan tunggal yang sedang disiapkan saat wawancara itu, Hamabe no Wolf merencanakan materi yang sama sekali tidak ditujukan untuk kompetisi.
Apa yang bisa diperhatikan saat menonton?
Saat menonton video komedi, coba perhatikan bagaimana satu situasi berkembang menjadi rangkaian lelucon, atau bagaimana kepribadian yang ditampilkan membuat sebuah percakapan terasa lucu. Detail-detail itu membantu kita menikmati cara sebuah materi dirangkai.
Ingin Punya Pacar
Mencari pacar jadi ajang promosi diri; makin ditolak, makin gigih menawarkan kelebihan.
3:36
Tonton versi penuh (3:36)
Kami juga memanfaatkan AI dalam pembuatan artikel kami.
Subtitle video ini: terjemahan AI dari bahasa Jepang.